• SMK NEGERI 3 PEKALONGAN
  • STM Pembangunan

Profil Teaching Factory

 

A. Pengertian Tefa

Teaching Factory adalah model pembelajaran yang mengoptimalkan kurikulum, sumber daya, dan sumber daya manusia di SMK dengan menyelaraskan proses produksi dan standar di dunia kerja untuk menghasilkan lulusan SMK yang memiliki soft skill dan hard skill yang diperlukan.
Tefa pada SMK bukan dibangun secara khusus, akan tetapi dengan memformulasikan, memanfaatkan, menata dan mengkondisikan sejumlah komponen Standar Nasional Pendidikan (SNP) di sekolah sedemikian rupa, sehingga mencerminkan ekosistem pabrik atau dunia kerja. Tefa merupakan model pembelajaran yang diyakini mampu meningkatkan kompetensi dan karakter peserta didik sesuai standar dunia kerja. Sesuai penjelasan tersebut, maka dapat didefinisikan bahwa Tefa adalah model pembelajaran yang memadukan pencapaian kompetensi kurikulum sekolah dan proses produksi sesuai prosedur dan standar dunia kerja, untuk menghasilkan lulusan yang kompeten dan berkarakter melalui penyelesaian produk sebagai media belajar dalam bentuk barang dan/atau layanan jasa.

B. Tujuan dan Manfaat Tefa

  1. Tujuan
    Membekali peserta didik SMK dengan kompetensi soft skill dan hard skill melalui pembelajaran yang dirancang, dilaksanakan, dan dievaluasi berdasarkan standar proses dan kualitas produk di dunia kerja sesuai bidang/program/konsentrasi keahlian.
  2. Manfaat
    a. Meningkatkan kualitas pembelajaran sesuai standar proses produksi di dunia kerja;
    b. Meningkatkan kompetensi lulusan SMK sesuai dengan tuntutan dunia kerja;
    c. Meningkatkan kemandirian sekolah dalam penyelenggaraan pendidikan vokasi sesuai standar dunia kerja;
    d. Memperkuat kemitraan SMK dengan dunia kerja;
    e. Menyediakan alternatif tempat Praktik Kerja Lapangan (PKL) peserta didik SMK; dan
    f. Menyediakan alternatif pemenuhan kebutuhan terhadap barang dan /atau jasa masyarakat.

C. Prinsip Tefa

Tefa SMK merupakan model pembelajaran berbasis produksi atau jasa yang mengacu pada standar dan prosedur dunia kerja. Selain itu, model pembelajaran juga dilaksanakan dalam suasana seperti yang terjadi di industri. Beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam menjalankan model tersebut agar mencapai tujuan adalah sebagai berikut.

  1. Pembelajaran berkualitas
    Pelaksanaan pembelajaran Tefa yang bekerjasama dengan dunia kerja dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran (pemenuhan sarana praktik produksi, transfer teknologi, dan metode pembelajaran) sesuai dengan standar proses pada prinsip pembelajaran dan asesmen yang berlaku untuk mencapai standar pembelajaran.
  2. Edukatif
    Penyelenggaraan Tefa tidak dimaksudkan untuk mengeksploitasi peserta didik melainkan mengutamakan pemberian kesempatan belajar berbasis industri yang melibatkan seluruh peserta didik untuk menumbuhkan etos dan budaya kerja sesuai dengan karakter/sifat pekerjaan.
  3. Akuntabel
    Pelaksanaan pembelajaran Tefa merupakan proses membangun kompetensi profesional, pelaksanaan dan pengelolaanya dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan peraturan berlaku dengan sumber daya yang digunakan secara transparan dan berintergritas.
  4. Efisien
    Pelaksanaan pembelajaran Tefa menghasilkan produk/barang/jasa yang sesuai dan tepat serta dapat menghemat pengeluaran bahan praktik dengan memanfaatkan bahan produksi.
  5. Profesional
    Pelaksanaan pembelajaran Tefa dapat mengembangkan kompetensi dan menginternalisasi karakter dunia kerja (kepatuhan terhadap peraturan, standar mutu, etika, estetika, penataan tempat kerja, pengaturan kerja, dan berorientasi pada kebutuhan pelanggan) pada peserta didik melalui proses pembelajaran yang menyenangkan. 

D. Ciri Tefa

Ciri atau karakter dari pembelajaran Tefa pada pendidikan kejuruan atau SMK adalah sebagai berikut.

  1. Lingkungan, suasana, dan aturan sekolah khususnya di tempat praktik dikondisikan sesuai dengan standar dunia kerja;
  2. Pembelajaran dan penilaian menggunakan perangkaUinstrumen/format untuk melakukan kegiatan/aktivitas produksi sesuai dengan standar dunia kerja;
  3. Hasil pembelajaran peserta didik berupa kompetensi yang diwujudkan dalam produk (barang atau jasa riil/utuh), sesuai dunia kerja;
  4. Alur/proses kerja (analisa produk, proses, evaluasi, pengembangan, penyimpanan, dan pemanfaatan barang/jasa) sesuai dengan dunia kerja;
  5. Sekolah memiliki mitra dari dunia kerja sesuai dengan kompetensi/konsentrasi keahlian yang aktif terlibat dalam proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran; dan
  6. Asesmen kompetensi peserta didik sesuai dengan prosedur dan tata cara
    penilaian di dunia kerja dan prinsip asesmen Kurikulum Merdeka.

 

Halaman Lainnya
Upaya Pencegahan Tindak Kekerasan Anak

UPAYA PENCEGAHAN TIDAK KEKERASAN ANAK DI SMKN 3 PEKALONGAN   A. Sekolah membentuk Tim Pencegahan Tindak Kekerasan dengan tugas antara lain; Membuat Tata Tertib atau Kode etik, Men

01/04/2024 09:48 WIB - Administrator
Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan SMK 3 Pekalongan

  NO   NAMA   PERWAKILAN UNSUR   JABATAN DALAM TPPK 1.   Yeni Pujiastuti, S.Pd.M.Pd Kepala Sekolah Penanggungjawab 2.   Sri Retno

01/04/2024 09:43 WIB - Administrator
SOP Pencegahan dan Penanganan Kekerasan SMK 3 Pekalongan

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) PENCEGAHAN DAN PENANGANAN KEKERASAN DI LINGKUNGAN SMK NEGERI 3 PEKALONGAN TAHUN AJARAN 2023/2024   BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Keputusan i

01/04/2024 09:42 WIB - Administrator
Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Satuan Pendidikan

A. 6 (enam) bentuk kekerasan yang didefinisikan dalam Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan    &nb

01/04/2024 08:56 WIB - Administrator
Penguatan Tata Kelola TPPK

menyusun dan melaksanakan tata tertib dan program Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di lingkungan satuan pendidikan; menjalankan kebijakan Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di ling

01/04/2024 08:45 WIB - Administrator